Ketika itu berjalan sebuah dering nada
nada yang sangat indah dan itu lah suara ketukan jari sang ayah yang duduk menanti di balik pintu sebuah kamar yang statusnya belum jelas.apakah rumah itu milik kami atau bukan.tapi yang pasti aku yakin itu bukanlah rumah yang seharusnya kami tingggali.karna itu adalah rumah pemberian seseorang untuk kami tempati.dan tepat pukul 07.35 malam yaiutu pada tanggal 13 februari 1993 seseorang terlahir kedunia,dunia dimana semua orang berjalan,berucap,berkata-kata,melepas rindu,menjemput rindu dan banyak hal yang di lakukan milyaran umat manusia di dunia ini.suara yang kecil tapi perlahan.mengeluarkan suara yang sedikit menelitik ketelinga.membuat sekeliling untuk sementara harus di tutup.di tutup ungkapannya buat sementara.namun mereka semua melepas rasa gembira dan juga rasa kagum kepada ibu yang sangat kesakitan dan bangga.uuuhhh....aku di timang,aku di cubitt..andaikan aku bisa berkata waktu itu barang kali aku akan mengatakan kepada mereka bahwa apa yang kurasakan saat itu mungkin sangat sakit.tapi itulah arti sebuah bayi yang hanya menyampaikan sedih dan senangnya serta apa yang dia rasakan dengan tawa dan tangis.tapi,menurut kedua orang tuaku aku adalah anak yang sanagt tak terungkapkan.dimana aku terlahir hanya sebotol kecil lemon.hahahah..itulah kata mereka.barang kali aku lebih cerewet dari ibu kota..lebih bising dari suara kreta berjalan.dan lebih panas daripada api kreta yang sedan menjalar.
Aku lupa bahwa kelahiran ku tak di di saksikan orang tuaku yang menjadi sosok seorang ayah.dia hanya melentingkan jari jemarinya di sebuah gubuk kecil di tengah luasnya padang sawah yang di isi daun serta biji yang menguning.dalam dunia orang yang sedang membutuhkan buruh untuk memetik stangkai demi stangkai bujur padi yang siap untuk mengisi perut banyak insan yang menikmatinya.yahhh...mencari sebuah nafkah untuk berdirinya sebuah tungku di dapur.kata itulah yang selalu mengingatkan aku sampai saat ini.
Ketika itu sebuah kabar yang beredar sampai ditengah dan di ujung sebuah hati seorang ayah sangat mencintai kami semua.dia sangat bangga mendengar bahwa seorang anak yang dia nantikan telah lahir di dunia dengan selamat.betapa bangganya dia sampai harus pulang dan melepas tumpukan yang ada di pundaknya.dan memutuskan untuk melihat aku di kampung halaman.Tepat nya di desa sei tarolat Km 15 kec.Bilah Hilir.Kab.Rantau prapat Provinsi sumatera utara.Ditengah perjalanan beliau merasa suatu tetesan air mengalir di sebuah pipinya yang sudah mulai kasar dan berwarna kecoklatan.dan di dalam hati beliau itu adalah air mata yang mengungkapkan rasa bangga beliau.dan kesedihan beliau karna tidak dapat menyaksikan kehadiran anaknya pertama kali di dunia ini.jalan penuh lumpur dan barangkali lumpur hanya sebagian namun bisa dikatakan bahwa tak ada jalan yang di sebut datar.namun sejuknya udara dan keberadaan beliau di balik sebuah dedaunan yang lebarnya melambai yang hinggap di tengah batang pepohonan yang sangat besar.
Waktu itu saya tak tau kapan dan dimana ayah saya berhenti dan berjalan melewati jalan setapak yang akan dia lalui menuju sebuah rumah yang berbilik sebuah tirai tikar yang sudah mulai lembab.karna beliau juga sudah lupa akan hal itu.tetapi yang pasti beliau mengatakan bahwa dia sampai ketika matahari sudah mulai meredup.dan dengan harapan dia dapat melihat anaknya di pangkuan nya dalam keadaan menangis.beliau pun berlari di antara sebuah jalan yang hanya berukuran 30 cm.kadang beliau berjalan seperti melewati sebuah kuis yang utamanya mendapatkan hadiah.karna badan beliau selalu berbelok ke kiri dan kekanan.namun akhirnya beliau memank mendapat hadiah yang tak ternilai harganya bagi orang tua.yaitu anak.anak dimana mereka nanti akan berjuang.anak dimana nanti mereka bercengkrama.anak dimana nati mereka akan di lawan.anak dimana mereka nanti kadang di benci.dan itu benar.karna saat ini pun kadang saya juga merasa marah kepada mereka.dan saya sering melawan kepada mereka.dan itu tak dapat saya pungkiri.dan tak dapat saya bohongi.